Foto: Ni Made Milati. (Sumber: Gung Kris)
DENPASAR, Beritarealitas.com — Tidak semua mimpi besar lahir dari tempat yang besar. Ada yang justru tumbuh dari ruang sederhana, dengan fasilitas terbatas, tetapi dirawat dengan ketekunan dan keyakinan bahwa setiap anak muda berhak memiliki kesempatan untuk mengubah masa depannya.
Kisah itu tergambar dari perjalanan Ni Made Milati dalam membangun BEC Academy. Dirintis sejak 2019, lembaga pendidikan dan pelatihan tersebut perlahan berkembang dari kelas sederhana menjadi salah satu wadah yang fokus mencetak sumber daya manusia di bidang perhotelan dengan standar kompetensi yang dibutuhkan industri.
Perjalanan BEC Academy tidak selalu berjalan mulus. Ketika pandemi Covid-19 melanda, aktivitas pendidikan dan pelatihan ikut terdampak. Namun, situasi tersebut justru menjadi salah satu titik penting bagi Milati untuk memperluas jejaring dan melihat peluang pengembangan lembaganya.
Kesempatan mengikuti program pemerintah seperti Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) dan Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjadi salah satu pintu yang kemudian memperkuat langkah BEC Academy.
“Pertama kali kami mendapatkan program pemerintah itu sekitar tahun 2020. Saat itu bidang yang kami ambil masih bahasa. Kemudian tahun 2021 kami mulai melihat peluang di bidang perhotelan,” ungkap Milati.
Pengalaman pernah bekerja di bidang front office hotel, ditambah latar belakang di dunia pendidikan, membuat Milati memahami bahwa kebutuhan industri perhotelan tidak cukup dijawab hanya dengan teori.
Ia kemudian mulai menyusun kurikulum yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja, melakukan studi banding ke sejumlah daerah, sekaligus membangun fasilitas praktik secara bertahap.
“Dari situ kami mulai membuat kurikulum dan pembelajaran khusus perhotelan. Kami juga banyak melakukan studi banding ke beberapa kabupaten untuk melihat bagaimana infrastruktur dan sistem pelatihannya,” jelasnya.
Pendidikan Terjangkau, Kesempatan Tak Boleh Mahal
Bagi Milati, pendidikan vokasi tidak boleh menjadi sesuatu yang hanya bisa dinikmati mereka yang memiliki kemampuan ekonomi lebih.
Karena itu, BEC Academy berupaya membuka akses seluas mungkin bagi anak-anak muda yang ingin masuk ke dunia perhotelan. Salah satunya melalui program beasiswa, termasuk kesempatan mengikuti program pemerintah bagi peserta yang memenuhi persyaratan.
Selain beasiswa, BEC juga berupaya menjaga biaya pendidikan tetap terjangkau, sehingga keterbatasan ekonomi tidak serta-merta memutus harapan seseorang untuk mendapatkan keterampilan dan memasuki dunia kerja.
“Yang paling penting bagi kami adalah bagaimana anak-anak ini mendapatkan kesempatan. Jangan sampai mereka punya kemampuan dan kemauan, tetapi terkendala biaya,” tutur Milati.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari semangat BEC Academy. Bukan sekadar mencetak lulusan, tetapi membuka jalan agar mereka memiliki keterampilan yang bisa digunakan untuk membangun masa depan.
Tak Dilepas Saat Training di Luar
Menariknya, perhatian BEC Academy terhadap mahasiswa tidak berhenti ketika mereka selesai mengikuti pembelajaran di kampus.
Ketika mahasiswa mendapatkan kesempatan training di hotel atau bahkan keluar daerah dan ke luar Bali, pihak BEC tetap berupaya melakukan pendampingan.
Milati menyadari, bagi sebagian mahasiswa, pengalaman pertama berada jauh dari keluarga dan lingkungan asal bukan perkara mudah. Perbedaan budaya kerja, bahasa, lingkungan maupun persoalan pribadi bisa menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, ketika mahasiswa mengalami persoalan selama menjalani training, BEC tidak membiarkan mereka menghadapi masalah seorang diri.
“Kami tetap mendampingi. Kalau ada mahasiswa yang mengalami masalah saat training di luar, kami komunikasikan dan kami bantu mencari solusinya. Mereka tetap anak-anak kami,” ungkapnya.
Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dari proses pendidikan yang dibangun BEC. Sebab, menurut Milati, keberhasilan mahasiswa bukan hanya ketika mereka mampu menyelesaikan pelatihan, tetapi ketika mereka mampu bertahan, belajar dan berkembang di lingkungan kerja yang sesungguhnya.
Dari Satu Lantai Menjadi Dua Lantai
Perjalanan BEC Academy pun tercermin dari perkembangan fisiknya.
Dari fasilitas yang awalnya sangat terbatas, perlahan satu demi satu sarana dikembangkan. Gedung yang sebelumnya hanya satu lantai kemudian berkembang menjadi dua lantai pada 2024.
“Dulu fasilitas kami belum seperti sekarang. Apa yang ada saat ini bagi kami sudah sangat luar biasa, karena semuanya dibangun secara bertahap,” ujarnya.
Kini, BEC Academy telah memasuki angkatan keempat, dengan sekitar 125 mahasiswa yang tersebar di sejumlah cabang.
Untuk program perhotelan, pusat pelatihan berada di lokasi utama. Sementara salah satu cabang di Sakah masih menggunakan bangunan dengan sistem sewa.
Namun, bagi Milati, keterbatasan tersebut bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
“Kalau yang di Sakah masih kami sewa atau kontrak. Mudah-mudahan bulan depan ada jalan untuk mulai membangun gedung sendiri,” katanya.
Dari ruang sederhana hingga memiliki ratusan mahasiswa, perjalanan BEC Academy menjadi gambaran bahwa membangun pendidikan vokasi bukan hanya soal gedung dan fasilitas.
Di baliknya ada keberanian untuk memulai, kesediaan untuk bertumbuh, serta komitmen membuka kesempatan bagi mereka yang mungkin tidak memiliki banyak pilihan.
Dan bagi Milati, setiap mahasiswa yang berhasil melangkah ke dunia kerja adalah bagian dari perjalanan panjang yang membuat semua keterbatasan di masa lalu terasa layak diperjuangkan. (gk)



