Dari Pelabuhan Ikan ke Simpul Ekonomi Baru, Pengambengan Disiapkan Naik Kelas

IMG-20260930-WA0005
Sumber Foto: Humas

JEMBRANA, Beritarealitas.com — Wajah Pengambengan di Kabupaten Jembrana perlahan disiapkan untuk berubah.

Kawasan yang selama ini lekat dengan aktivitas nelayan, kapal-kapal penangkap ikan dan bongkar muat hasil laut, kini diarahkan menjadi salah satu simpul ekonomi baru Bali.

Transformasi itu ditandai dengan groundbreaking Pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan di Banjar Kelapa Balian, Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Jembrana, Selasa (29/9/2026).

Peletakan batu pertama dilakukan langsung Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono, didampingi Gubernur Bali Wayan Koster, Anggota Komisi IV DPR RI Nyoman Adi Wiryatama, Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan serta jajaran Forkopimda.

Namun proyek ini bukan sekadar pembangunan pelabuhan.

Dengan nilai investasi tahap pertama sekitar Rp1,2 triliun, pemerintah ingin mengubah Pengambengan menjadi pelabuhan perikanan modern terintegrasi atau Integrated Fishing Port and Market Phase 1.

Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, konsep yang dibangun bukan lagi sekadar tempat kapal bersandar dan ikan diperjualbelikan.

Pelabuhan tersebut akan dilengkapi pasar ikan bersih hingga kawasan kuliner. Dengan konsep itu, kawasan perikanan diharapkan mampu menjadi ruang ekonomi baru yang lebih tertata dan memiliki nilai tambah.

“Baru saja kita selesai melakukan seremoni groundbreaking pelabuhan modern terintegrasi atau Integrated Fishing Port and Market Phase 1,” kata Sakti.

Menurutnya, Pengambengan diproyeksikan menjadi salah satu model pelabuhan perikanan modern di Indonesia. Konsepnya mengadopsi pengelolaan pelabuhan perikanan di sejumlah negara yang tidak hanya mengejar aktivitas penangkapan ikan, tetapi juga mengembangkan perdagangan, kuliner dan aktivitas ekonomi lainnya.

“Teman-teman nanti bisa membayangkan kalau pernah ke luar negeri melihat pelabuhan perikanan yang begitu bersih, bagus, ekonominya berjalan dengan baik. Kita juga akan melakukan hal yang sama di sini,” ujarnya.

Baca Juga:  Putri Koster Dorong Posyandu Naik Kelas, Tak Lagi Sekadar Layanan Kesehatan

Salah satu perubahan yang ingin ditekankan adalah citra kawasan perikanan yang selama ini identik dengan bau dan lingkungan yang kurang tertata.

“Tidak ada lagi yang bau. Semuanya tertata dengan baik. Kalau datang ke sini tidak hanya terjadi transaksi sektor perikanan, tetapi juga bisa ada pasar ikan yang bersih, kemudian kuliner dan seterusnya,” jelas Sakti.

 

Rp1,2 Triliun dan Potensi Ikan Bernilai Tinggi

Besarnya investasi pembangunan di Pengambengan bukan tanpa alasan.

Menurut Sakti, posisi Jembrana memiliki kedekatan dengan WPP 718, kawasan pengelolaan perikanan yang memiliki potensi sumber daya ikan bernilai ekonomi tinggi.

Kondisi tersebut membuka peluang Pengambengan tidak hanya menjadi pusat pendaratan ikan, tetapi juga dikembangkan sebagai kawasan pengelolaan premium fish yang berorientasi ekspor.

“Di sini besar, sekitar Rp1,2 triliun. Karena di depan itu ada WPP 718 yang banyak sekali tuna sirip biru di sana,” ungkapnya.

“Harapannya di sini adalah tempat premium fish yang bisa langsung tujuannya untuk kemudian ekspor,” imbuh Sakti.

Pengambengan menjadi salah satu dari empat pelabuhan yang akan dikembangkan dengan konsep serupa. Selain Jembrana, pemerintah juga menyiapkan pengembangan di Kejawanan Cirebon, Cilacap dan Bitung.

Sakti menyebut empat lokasi tersebut akan menjadi proyek percontohan. Pemerintah akan melihat hasil pembangunan dan pengelolaannya sebelum model serupa diperluas ke pelabuhan lainnya.

“Kalau dari empat titik itu sudah kita bangun, kita akan monitor. Kita selalu membuat modeling. Kalau modeling-nya sudah berhasil dengan baik, kemudian kita kembangkan yang lain,” katanya.

Artinya, pembangunan Pengambengan bukan hanya berbicara mengenai beton, dermaga maupun fasilitas pelabuhan.

Ada target lebih besar: menciptakan rantai ekonomi baru dari laut hingga pasar.

Baca Juga:  Wakil Jaksa Agung Soroti Tantangan Penegakan Hukum di Era Baru Peradilan Pidana

 

Koster: Bukan Sekadar Pelabuhan, tapi Pusat Pertumbuhan Baru

Gubernur Bali Wayan Koster melihat pembangunan tersebut sebagai momentum penting bagi Jembrana.

Menurutnya, pengembangan sektor kelautan dan perikanan dari hulu hingga hilir telah lama menjadi harapan Pemerintah Provinsi Bali maupun masyarakat.

“Saya mewakili Pemerintah Provinsi Bali dan masyarakat Bali mengucapkan terima kasih kepada Bapak Menteri. Ini sangat luar biasa, yang sudah menjadi harapan masyarakat Bali dan Pemerintah Provinsi Bali sejak lama,” kata Koster.

Koster menilai, keberadaan pelabuhan modern ini dapat mengubah peta pertumbuhan ekonomi Bali.

Jika selama ini aktivitas ekonomi Bali lebih banyak terkonsentrasi di wilayah Bali Selatan, pembangunan berbasis kelautan dan perikanan di Jembrana dinilai dapat membuka sumber pertumbuhan baru di Bali Barat.

“Ini merupakan program yang akan menangani kelautan dan perikanan dari hulu sampai hilir, dan akan menjadi pusat perekonomian baru di Kabupaten Jembrana dan berdampak kepada Bali secara keseluruhan maupun juga luar Bali,” tegasnya.

Yang menjadi perhatian Koster, pertumbuhan tersebut tidak boleh berhenti pada angka investasi maupun nilai ekspor.

Manfaat akhirnya harus kembali kepada masyarakat, khususnya nelayan.

“Jadi ini tidak saja ekonomi global dan lokal yang meningkat, tetapi juga pendapatan utama para nelayan kita akan semakin meningkat dan berdampak pada kesejahteraan para nelayan kita,” tutup Koster.

 

Menata Industri, Melindungi Nelayan Kecil

Di sisi lain, pembangunan pelabuhan modern ini juga dibarengi dengan penataan aktivitas perikanan.

Sakti menegaskan kapal industri yang beroperasi di Bali harus mengikuti ketentuan perizinan dan wilayah operasi yang telah ditetapkan pemerintah.

“Itu izin penangkapan ikan saya yang mengeluarkan izin. Saya tidak keluarkan izinnya kalau mereka enggak dari sini. Itu saja intinya,” tegasnya.

Baca Juga:  DKLH Bali Tak Mau Isu Publik Berhenti di Media, SIMPATI-BALI SIGAP Disiapkan Jadi Sistem Respons Cepat

Sementara nelayan kecil tetap mendapatkan ruang.

Nelayan dengan kapal di bawah 30 GT akan diarahkan ke kawasan yang telah disiapkan. Untuk nelayan kecil yang melakukan aktivitas penangkapan harian di bawah 12 mil, pemerintah juga menyiapkan konsep Kampung Nelayan.

“Yang di bawah 12 mil, yang kecil-kecil, yang hanya one-day fishing, kita bangunkan semua. Nah, di sini untuk levelnya industri. Jadi industri harus ikut aturan industri,” kata Sakti.

Penataan ini juga berkaitan dengan masa depan kawasan Benoa yang memiliki fungsi strategis sebagai kawasan pariwisata Bali.

Sakti menilai fungsi industri perikanan dan pariwisata perlu ditata agar tidak saling mengganggu.

“Bayangkan, di Benoa itu adalah daerah pariwisata. Kalau kemudian dicampur juga dengan ikan, bagaimana pariwisata Bali masa depannya? Kan jadi kurang baik,” ujarnya.

Kini, Pengambengan mendapatkan babak baru.

Dari kawasan yang selama ini dikenal sebagai salah satu kantong aktivitas perikanan Jembrana, tempat tersebut diproyeksikan menjadi pusat perikanan modern, pasar ikan, kawasan kuliner, pengolahan hasil laut hingga pintu masuk komoditas premium menuju pasar ekspor.

Jika pembangunan berjalan sesuai rencana, batu pertama yang diletakkan Menteri KKP bukan sekadar menandai dimulainya proyek fisik.

Lebih jauh, itu menjadi penanda ambisi baru: mendorong ekonomi Jembrana tumbuh dari kekuatan yang selama ini berada di depan mata—laut. (gk)