Bukan Sekadar Balapan, GP Mandalika Berikan Dampak Ekonomi Tembus Rp4,7 Triliun

Screenshot_20261001-184534_1
Sumber Foto: Humas

 

JAKARTA, Beritarealitas.com — Moto GP Mandalika mulai menunjukkan wajah lain di luar lintasan. Gelaran balap motor kelas dunia itu tak hanya menyuguhkan adrenalin dan persaingan para pembalap, tetapi juga menjadi mesin penggerak ekonomi, pariwisata, hingga promosi Indonesia di mata dunia.

Kajian Kementerian PPN/Bappenas bersama PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) dan Mandalika Grand Prix Association (MGPA) memperkirakan penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2025 memberikan dampak ekonomi sekitar Rp2,7 triliun hingga Rp4,7 triliun.

Temuan tersebut dituangkan dalam buku MotoGP Mandalika 2025: Akselerasi Ekonomi, Citra, dan Pariwisata yang diluncurkan Kementerian PPN/Bappenas. Kajian ini melibatkan lebih dari 1.800 responden, mulai dari penonton domestik, wisatawan mancanegara, pelaku UMKM, tenaga kerja hingga sponsor.

Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menegaskan MotoGP Mandalika tidak lagi bisa dilihat sebatas agenda olahraga internasional.

“Bagi InJourney, MotoGP Mandalika bukan sekadar event olahraga internasional. Ini adalah platform yang mempertemukan olahraga, pariwisata, konektivitas, ekonomi kreatif, UMKM, talenta lokal, hingga nation branding Indonesia,” ujar Maya.

Menurutnya, yang menjadi pekerjaan penting bukan hanya memastikan event berlangsung sukses, tetapi bagaimana dampaknya terus terasa setelah balapan berakhir.

“Yang ingin kita bangun bukan hanya event yang sukses pada saat berlangsung, tetapi sebuah ekosistem yang terus tumbuh sebelum, selama, dan setelah event,” tegasnya.

Kajian Bappenas juga mencatat pengalaman penonton terhadap MotoGP Mandalika memperoleh skor 5,07 dari skala 6. Eksposur Mandalika bahkan diperkirakan berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan sekitar 11 persen, dengan potensi tambahan belanja wisatawan mencapai Rp44,5 miliar jika ditopang promosi destinasi yang terintegrasi.

Tak hanya perputaran uang, dampak juga terasa di tingkat masyarakat. Kepuasan tenaga kerja dan relawan tercatat 5,51 dari skala 6, sementara kepuasan pelaku UMKM dan tenant mencapai 5,23.

Baca Juga:  Gerindra Tanggapi Isu Kenaikan UMP Bali, De Harja: Tapi Benarkah Pekerja Makin Sejahtera?

Dari sisi promosi, gaung MotoGP Mandalika juga menghasilkan Advertising Value Equivalency (AVE) sebesar 361,6 juta euro atau sekitar Rp6,9 triliun.

Bagi InJourney, angka-angka tersebut menjadi modal untuk mengembangkan Mandalika bukan hanya sebagai lokasi balapan, tetapi sebagai destinasi yang tetap hidup di luar kalender MotoGP.

Plt. Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, menyebut tantangan berikutnya adalah mengubah ekonomi berbasis event menjadi pembangunan kawasan yang digerakkan oleh event.

“MotoGP Mandalika menunjukkan bahwa event olahraga internasional bukan sekadar tontonan, tetapi dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi dan pengembangan kawasan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menegaskan, targetnya adalah menjadikan The Mandalika sebagai destinasi sport tourism berkelas dunia yang hidup 365 hari, bukan hanya ramai ketika MotoGP digelar.

Sementara itu, Direktur Utama MGPA, Ananda Mikola, menyoroti dampak lain yang tak kalah penting, yakni lahirnya talenta motorsport nasional. Menurutnya, ajang internasional seperti MotoGP menjadi ruang bagi pembalap muda, marshal, tenaga profesional, hingga profesi pendukung lainnya untuk mendapatkan pengalaman berstandar dunia.

Momentum tersebut akan berlanjut melalui Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 9–11 Oktober 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit.

Persiapan pun terus dikebut. InJourney bersama ITDC, MGPA, pemerintah daerah, kementerian/lembaga dan pemangku kepentingan melakukan konsolidasi mulai dari kesiapan sirkuit, konektivitas, akomodasi, transportasi, keamanan, kesehatan hingga keterlibatan UMKM dan masyarakat. (gk)