Tumpek Uye Dirayakan Serentak di Bali, Perkuat Komitmen Pelestarian Satwa dan Lingkungan

Screenshot_20260907-100337_1

Ket Foto: Kegiatan Tumpek Uye dan persembahyangan di Pura Beji dan Pura Penataran Luhur Batukau. (Sumber: Gung Kris)

 

TABANAN, Beritarealitas.com — Perayaan Rahina Tumpek Uye yang jatuh pada Sabtu Kliwon Wuku Uye, 5 September 2026, dilaksanakan secara serentak di seluruh kabupaten/kota se-Bali. Peringatan hari suci yang juga dikenal sebagai Tumpek Kandang ini tidak hanya diisi dengan persembahyangan, tetapi diwujudkan melalui berbagai aksi nyata untuk menjaga, melindungi, serta melestarikan satwa dan lingkungan.

Untuk tingkat Provinsi Bali, rangkaian perayaan Tumpek Uye dipusatkan di Pura Luhur Batukau, Kabupaten Tabanan. Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur Bali Wayan Koster, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga, Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra, Sekda Kabupaten Tabanan I Gede Susila, jajaran perangkat daerah Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kabupaten Tabanan, serta masyarakat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan memberi makan ikan di kolam Beji Pura Luhur Batukau. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelepasan ratusan ekor burung titiran ke alam bebas, sebelum rombongan mengikuti persembahyangan di Pura Beji dan Pura Penataran Luhur Batukau.

Usai persembahyangan, Gubernur Bali bersama rombongan meninjau pelaksanaan vaksinasi rabies dan sterilisasi massal terhadap Hewan Penular Rabies (HPR), khususnya anjing, yang digelar di Banjar Wangaya Kaja, Desa Wangaya Gede, Kecamatan Penebel, Tabanan.

Pelaksanaan Tumpek Uye menjadi wujud penghormatan manusia terhadap binatang yang telah memberikan berbagai manfaat bagi kehidupan. Nilai tersebut juga sejalan dengan falsafah Tri Hita Karana, yang mengajarkan keharmonisan dan keseimbangan kehidupan melalui hubungan manusia dengan Tuhan (Parhyangan), manusia dengan sesama (Pawongan), serta manusia dengan alam (Palemahan).

Di tingkat kabupaten/kota, perayaan Tumpek Uye juga dilaksanakan secara serentak melalui persembahyangan serta berbagai kegiatan yang berkaitan dengan perlindungan dan kesehatan satwa.

Baca Juga:  Pemprov Bali Perkuat Sistem Merit, Karier ASN Tak Boleh Lagi Dipengaruhi Politik Praktis

Salah satu kegiatan utama dilakukan melalui vaksinasi rabies dan sterilisasi massal HPR yang digelar di sejumlah titik di seluruh kabupaten/kota se-Bali. Kegiatan tersebut juga disertai Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat mengenai bahaya rabies serta pentingnya vaksinasi bagi Hewan Penular Rabies.

Selain kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan satwa, aksi pelestarian fauna juga dilakukan di sejumlah wilayah. Di Pantai Masceti, Gianyar, serta Oemah Penyu Desa Uma Anyar, Seririt, Buleleng, dilakukan pelepasan ratusan tukik ke habitat alaminya.

Pelepasan tukik tersebut menjadi bagian dari rangkaian aksi nyata Tumpek Uye dalam menjaga keberlangsungan fauna sekaligus mempertahankan keseimbangan ekosistem, khususnya ekosistem laut di Bali.

Perayaan Tumpek Uye menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat bahwa satwa merupakan bagian penting dari kehidupan dan keseimbangan alam. Melalui peringatan yang dilaksanakan secara serentak di seluruh Bali, nilai-nilai kearifan lokal diharapkan semakin kuat dalam mendorong keharmonisan hubungan manusia dengan alam dan seluruh makhluk hidup.

Dengan demikian, Tumpek Uye tidak berhenti sebagai ritual keagamaan, tetapi juga menjadi momentum untuk menerjemahkan nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal Bali ke dalam tindakan nyata dalam menjaga satwa, lingkungan, dan keberlanjutan kehidupan. (GK/BR)