Sumber Foto: Humas Pemprov.
DENPASAR, Beritarealitas.com — Pariwisata Bali mulai diarahkan untuk meninggalkan paradigma lama yang menjadikan jumlah kunjungan sebagai ukuran utama keberhasilan. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali bersama ITTA Foundation mendorong kolaborasi lebih kuat antara industri hospitality, pemerintah, akademisi, asosiasi, dan masyarakat untuk membangun quality tourism yang berkelanjutan.
Dorongan tersebut mengemuka dalam peringatan 11 Tahun Bali Tourism Awards (BTA) 2026 yang digelar di Sanur, Senin (14/9) malam. Ajang bertema “11 Years of Excellence: Inspiring the Future” itu menjadi ruang apresiasi sekaligus momentum mengevaluasi arah masa depan pariwisata Bali.
Gubernur Bali Wayan Koster melalui sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Dinas Pariwisata Bali Wayan Sumarajaya menegaskan, pariwisata Bali tidak boleh dipandang semata sebagai mesin ekonomi.
“Pariwisata Bali bukan sekadar sektor ekonomi, melainkan bagian penting dari kehidupan masyarakat Bali yang di dalamnya terdapat kebudayaan, adat istiadat, seni, lingkungan, spiritualitas, serta kehidupan sosial yang diwariskan secara turun-temurun.”
Hingga Agustus 2026, kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali tercatat sekitar 4,6 juta, relatif stabil dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara wisatawan nusantara mencapai 6,9 juta kunjungan, tumbuh sekitar 5 persen.
Namun, angka tersebut dinilai belum cukup menjadi tolok ukur keberhasilan.
“Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita mampu menghadirkan pariwisata yang berkualitas (quality tourism) dan berkelanjutan, memberikan manfaat luas bagi masyarakat sekaligus menjaga keharmonisan Bali,” tegas Koster.
Menurut Koster, tantangan berikutnya bukan sekadar mendatangkan lebih banyak wisatawan, tetapi memastikan wisatawan memperoleh pengalaman yang berkualitas, aman, nyaman, autentik, sekaligus memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat lokal.
Di titik inilah kualitas sumber daya manusia dan industri hospitality menjadi faktor penting. Kolaborasi lintas sektor dinilai tidak bisa lagi sebatas jargon, tetapi harus menghasilkan inovasi, peningkatan kompetensi dan model pariwisata yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, budaya dan lingkungan.
Ketua ITTA Foundation, Panca Rudolf Sarungu, mengatakan perjalanan BTA selama 11 tahun merupakan refleksi atas ketangguhan industri pariwisata Bali menghadapi berbagai krisis, termasuk erupsi Gunung Agung dan dinamika global.
BTA 2026, kata Panca, juga memperluas cakupan penelitian dengan menggandeng Binus Business School sebagai desk and research partner. Penilaian tidak lagi terkonsentrasi di Bali Selatan, tetapi mulai menjangkau Lovina, Candi Dasa, Bali Barat hingga para penggerak pariwisata di tingkat desa.
“Kami tidak hanya berfokus pada Bali Selatan, tetapi juga menjangkau potensi di Lovina, Candi Dasa, Bali Barat, hingga apresiasi bagi para penggerak di tingkat desa,” jelasnya.
Lebih jauh, ITTA Foundation menegaskan keberpihakannya terhadap local brand agar mampu berdiri sejajar dengan merek internasional. Bahkan untuk pertama kalinya, BTA memberikan apresiasi kepada jajaran pemimpin di tingkat pusat, termasuk Kementerian Agama, yang dinilai berkontribusi dalam menjaga toleransi dan iklim keamanan.
Bagi Panca, toleransi dan keharmonisan bukan sekadar nilai sosial, tetapi merupakan modal penting bagi keberlangsungan pariwisata Bali.
Dalam momentum 11 tahun BTA, Panca merangkum tiga pesan utama bagi para pemenang dan pelaku industri melalui konsep PCL: Persistence, Collaboration, dan Legacy.
Ketiganya menjadi pengingat bahwa masa depan pariwisata Bali tidak dapat dibangun oleh pemerintah maupun industri secara sendiri-sendiri. Kolaborasi harus diarahkan untuk menciptakan warisan pariwisata yang tetap menghidupi masyarakat lokal sekaligus menjaga Bali sebagai destinasi dunia.
Termasuk pengembangan sport tourism melalui berbagai ajang seperti maraton di Sanur dan Denpasar yang dapat dikembangkan melalui kolaborasi multipihak, tanpa sepenuhnya bergantung pada APBN maupun APBD. (gk)



