ENSIA 2026: Koster Tegaskan Bali Tak Boleh Tumbuh dengan Mengorbankan Alam

IMG-20260911-WA0000
Foto: ENSIA 2026. (Sumber: Humas)

BADUNG, Beritarealitas.com — Pembangunan Bali kembali dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: seberapa jauh pertumbuhan ekonomi bisa dikejar tanpa membuat alam menjadi korban?

Pesan itu mengemuka dalam puncak penganugerahan Environmental and Social Innovation Award (ENSIA) 2026 di The Westin Resort Nusa Dua, Badung, Kamis (10/9/2026). Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan, pembangunan di Pulau Dewata tidak boleh berjalan dengan logika mengejar pertumbuhan semata, tetapi harus menjaga keseimbangan manusia dengan alam.

Koster mengatakan, prinsip tersebut bukan sekadar slogan pembangunan. Bali, menurutnya, memiliki konsep Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang menempatkan kelestarian lingkungan dan kehidupan seluruh makhluk sebagai bagian penting dari arah pembangunan.

“Tidak boleh hidup sendiri, lalu mematikan yang lain. Hidup yang menghidupi, urip yang menguripi. Hidup harus harmonis dengan alam,” ujar Koster.

Bagi Koster, prinsip tersebut juga telah diterjemahkan ke dalam arah kebijakan pembangunan melalui Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun. Seluruh pembangunan Bali diarahkan agar berkelanjutan dan tetap menjaga keharmonisan manusia dengan lingkungan demi generasi mendatang.

Energi Bersih Jadi Ujian Keseriusan

Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah energi. Pemprov Bali mendorong penggunaan energi bersih dari hulu hingga hilir melalui berbagai regulasi daerah.

Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi salah satu andalan. Program ini telah didorong sejak 2019 sebagai bagian dari transformasi energi Bali.

Koster menyebut Pemerintah Pusat memberikan dukungan terhadap pengembangan PLTS di Bali. Pulau Dewata diharapkan memperoleh pasokan listrik sekitar 1.000 MW dari pengembangan PLTS sebagai bagian dari program nasional berkapasitas 100 GWp.

Namun, target besar tersebut pada akhirnya akan diuji bukan hanya oleh besarnya kapasitas listrik yang dibangun, melainkan oleh seberapa nyata energi bersih mampu mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi yang mencemari lingkungan.

Baca Juga:  Gerindra Tanggapi Isu Kenaikan UMP Bali, De Harja: Tapi Benarkah Pekerja Makin Sejahtera?

Bali yang menggantungkan ekonominya pada sektor pariwisata memang membutuhkan pasokan energi yang besar. Tetapi di sisi lain, semakin masif aktivitas pariwisata, semakin besar pula tekanan terhadap lingkungan.

Karena itu, transisi energi menjadi bagian penting untuk memastikan citra Bali sebagai destinasi wisata berkualitas tidak berhenti pada promosi, tetapi juga ditopang oleh infrastruktur yang lebih ramah lingkungan.

Sampah, Pekerjaan Rumah yang Belum Selesai

Koster mengklaim penanganan sampah di kawasan Denpasar dan Badung menunjukkan perkembangan positif. Tingkat pemilahan sampah disebut telah mencapai 80 hingga 90 persen, sehingga beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung mulai menurun.

Angka tersebut menjadi sinyal positif. Namun, persoalan sampah Bali bukan hanya mengenai seberapa banyak sampah yang berhasil dipilah, melainkan juga bagaimana sampah dari aktivitas masyarakat, industri, perdagangan dan pariwisata dapat dikurangi sejak dari sumbernya.

Persoalan tersebut turut disoroti Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat. Pemerintah mendorong peningkatan tanggung jawab pelaku usaha terhadap sampah yang dihasilkan, termasuk produk makanan dengan kemasan plastik yang menjadi salah satu penyumbang timbulan sampah.

Artinya, beban menjaga lingkungan tidak bisa hanya diletakkan di pundak pemerintah dan masyarakat. Pelaku usaha juga dituntut mengambil bagian lebih besar.

 

ENSIA Dorong Inovasi Tak Berhenti di Atas Kertas

Di tengah tantangan tersebut, ENSIA 2026 menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa inovasi lingkungan tidak harus berhenti sebagai konsep.

Direktur Utama PT SUCOFINDO Sandry Pasambuna mengatakan ENSIA merupakan ajang yang digelar SUCOFINDO bersama Kementerian Lingkungan Hidup untuk memberikan apresiasi kepada pelaku usaha dan local hero yang menghadirkan inovasi nyata di bidang lingkungan dan sosial.

Antusiasme tahun ini meningkat. Sebanyak 954 makalah inovasi dari 253 perusahaan masuk dalam seleksi, sementara 48 calon local hero inspiratif turut disaring.

Baca Juga:  UDG Bali XXXIII Jadi Gerbang Duta Terbaik, Misi Pertahankan Juara Umum Nasional

PT Smelting keluar sebagai Best of the Best Participant ENSIA 2026. Empat peserta terbaik lainnya adalah PT PLN Nusantara Power UP Rembang, PT TIMAH Tbk Divisi Pengolahan dan Peleburan Kundur, PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Rewulu, serta PT ANTAM Tbk Unit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor.

Penghargaan tersebut diserahkan Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat.

Bagi Bali, pesan ENSIA menjadi semakin relevan. Pulau ini berada di persimpangan antara kebutuhan mengejar pertumbuhan ekonomi, mempertahankan daya tarik pariwisata, dan menjaga daya dukung lingkungan yang semakin tertekan.

Karena itu, pernyataan Koster bahwa pembangunan harus “hidup yang menghidupi, urip yang menguripi” bukan sekadar pesan filosofis.

Tantangan sebenarnya adalah memastikan prinsip tersebut benar-benar hadir dalam setiap kebijakan pembangunan—mulai dari energi, pengelolaan sampah, pariwisata hingga tata ruang.

Sebab, jika alam Bali rusak, maka yang dipertaruhkan bukan hanya lingkungan, tetapi juga fondasi ekonomi dan kehidupan masyarakat Bali untuk generasi berikutnya. (Gk)