Sumber Foto: NU
JAKARTA, Beritarealitas.com — Gonjang-ganjing yang mengiringi Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 tak hanya menghadirkan perdebatan soal kepemimpinan dan dinamika internal organisasi. Di balik riuhnya polemik, muncul fenomena menarik: perhatian warga Nahdliyin kembali tertuju kepada para Gus dan kiai yang selama ini lebih banyak berada di lingkungan pesantren.
Nama-nama seperti Gus Kikin, Gus Salam hingga Gus Lilur kembali menjadi perhatian publik. Mereka hadir dengan latar dan sikap yang beragam, mulai dari pengasuh pesantren hingga figur muda yang berani menyampaikan pandangan kritis terhadap dinamika organisasi.
Pernyataan mengenai dugaan politik uang yang disampaikan Gus Lilur, misalnya, ikut menjadi sorotan. Namun, tudingan tersebut tetap harus ditempatkan sebagai bagian dari perdebatan publik dan diverifikasi berdasarkan fakta serta keterangan pihak terkait. Panitia Muktamar sendiri telah menyampaikan bantahan.
Terlepas dari polemik tersebut, fenomena ini memperlihatkan bahwa suara para Gus masih memiliki ruang penting di tengah warga NU. Ketika tensi politik organisasi meningkat, sebagian Nahdliyin justru kembali mencari figur yang dianggap dekat dengan tradisi pesantren, memiliki kedalaman keilmuan, serta mampu memberikan keteduhan.
Di sinilah pesan penting dari dinamika Muktamar muncul. Kekuatan NU tidak semata berada pada struktur, jabatan dan kontestasi kepemimpinan. Akar kekuatan itu juga tumbuh dari pesantren, santri, tradisi keilmuan, dakwah dan keteladanan para kiai.
Gonjang-ganjing Muktamar pun dapat menjadi momentum untuk kembali melihat akar tersebut. Para Gus muda diharapkan berani menyampaikan kritik dengan ilmu dan adab, sementara para pengasuh pesantren terus menjaga tradisi keilmuan dan keteladanan.
Sebab, panggung para Gus sejatinya bukan sekadar panggung perebutan posisi. Lebih jauh, ia adalah ruang untuk menjaga nilai, tradisi dan marwah pesantren di tengah perubahan zaman. (gk)



