Ilustrasi: Gung Kris
TABANAN, Beritarealitas.com — Ada kalanya manusia terlalu sibuk berbicara hingga lupa mendengarkan. Alam, barangkali, sedang berbicara dengan caranya sendiri. Melalui angin yang tiba-tiba menguat, api yang melahap permukiman dan kawasan usaha, air yang datang dalam jumlah tak terduga, hingga gunung yang menunjukkan kekuatannya.
Bagi I Nyoman Ardika atau akrab disapa Jero Sengap, berbagai fenomena tersebut tidak semestinya hanya dipandang sebagai rangkaian peristiwa yang datang dan kemudian dilupakan setelah keadaan kembali normal.
Menurutnya, ada pesan yang patut direnungkan. Bukan untuk menakut-nakuti manusia. Bukan pula untuk menyederhanakan bencana hanya sebagai persoalan spiritual. Tetapi untuk mengajak manusia bertanya lebih jauh, sudah seimbang kah hubungan kita dengan alam?
Pertanyaan itu menjadi penting bagi Bali, sebuah pulau yang kehidupan masyarakatnya begitu dekat dengan tradisi, ritual dan alam.
Menurut Jero Sengap, menjaga keseimbangan tidak bisa hanya dibebankan kepada masyarakat. Pemimpin justru memiliki tanggung jawab besar.
“Semua unsur harusnya ikut melihat. Tidak hanya masyarakat, tetapi pemimpin. Karena pemimpin ini yang paling bertanggung jawab terhadap segala situasi yang ada,” ujar Jero Sengap, saat diwawancarai disela-sela karya Pemahyu Jagat di Pura Tanah Lot, Jumat, (11/9/2026).
Pemimpin yang dimaksud, menurutnya, bukan hanya orang yang berada di kursi pemerintahan. Ada pemimpin spiritual dan agama. Ada pemimpin adat. Ada pemimpin rakyat. Ada pemimpin birokrasi. Ada pula pemimpin dalam berbagai bidang kehidupan lainnya.
“Mereka semua memiliki tanggung jawab untuk memastikan kehidupan berjalan dalam keseimbangan,” tegasnya.
Bali memiliki tradisi ritual yang begitu kuat. Masyarakat menjalankan persembahyangan, upacara dan berbagai bentuk penghormatan terhadap alam serta kehidupan.
Namun bagi Jero Sengap, ritual tidak seharusnya berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ritual seharusnya menjadi kesempatan bagi manusia untuk kembali melihat ke dalam dirinya.
“Secara ritual, masyarakat barangkali sudah sangat luar biasa. Pemimpin juga barangkali sangat luar biasa,” ujarnya.
Bagi Jero Sengap, semua itu merupakan bagian dari keseimbangan yang harus dijaga. Sebab ritual tanpa perubahan perilaku akan kehilangan sebagian maknanya.
Jero Sengap kemudian menggunakan perumpamaan sederhana untuk menggambarkan bagaimana manusia seharusnya membaca tanda-tanda alam.
“Secara alam ini sebenarnya sama seperti tubuh. Apa yang sakit berarti ada penyakit di tubuh. Kalau tangan kesemutan berarti ada saraf,” katanya.
Perumpamaan tersebut sederhana, tetapi memiliki pesan yang dalam. Ketika tangan kesemutan, manusia tidak berhenti pada rasa kesemutannya. Ia akan mencari tahu apa penyebabnya.
Begitu pula ketika alam menunjukkan tanda-tanda ketidakseimbangan. Bencana seharusnya tidak hanya dilihat sebagai kejadian yang harus ditangani setelah terjadi.
Pemimpin Tidak Cukup Hanya Hadir dalam Ritual
Di titik inilah Jero Sengap memberi penekanan khusus kepada para pemimpin. Menurut dia, masyarakat tidak bisa terus-menerus ditempatkan sebagai pihak yang harus memperbaiki keadaan. Pemimpin juga harus bercermin.
Ketika lingkungan rusak, pemimpin harus bertanya apakah kebijakan pembangunan sudah tepat. Ketika sampah menjadi persoalan, pemimpin harus melihat apakah sistem pengelolaannya benar-benar berjalan. Ketika pariwisata tumbuh pesat, pemimpin harus memastikan daya dukung alam tidak dilampaui.
Dan ketika bencana datang, pemimpin tidak cukup hanya hadir setelah kejadian. Pemimpin harus hadir sejak sebelum masalah terjadi. Sebab keputusan seorang pemimpin dapat memengaruhi kehidupan ribuan bahkan jutaan orang.
“Pemimpin ini yang paling bertanggung jawab terhadap segala situasi yang ada,” tegas Jero Sengap. (Gk)



