Foto: Wealth Wisdom 2026 Permata Bank. Sambutan oleh Eddie Sajoga, Direktur Consumer & Branch Banking Permata Bank dalam Permata Bank Wealth Wisdom di Kota Bali. (Sumber: Permata)
DENPASAR, Beritarealitas.com – Pertumbuhan ekonomi Bali yang masih ditopang kuat oleh sektor pariwisata membuka ruang peluang investasi. Namun di sisi lain, dinamika ekonomi global membuat investor dituntut tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga mampu membaca perubahan dan menyesuaikan strategi. Kondisi tersebut menjadi salah satu isu yang diangkat Permata Bank melalui Wealth Wisdom 2026 di Bali, Kamis (17/9/2026).
Mengusung tema “Finding Balance, Building Resilience” dengan semangat “Growing Together Through Changes”, kegiatan ini menjadi ruang bagi nasabah untuk memahami perkembangan ekonomi, mengenali risiko sekaligus peluang, serta mengevaluasi kembali strategi investasi sesuai tujuan finansial masing-masing.
Momentum tersebut berlangsung ketika perekonomian Bali menunjukkan pertumbuhan positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Bali pada triwulan II 2026 tumbuh 5,78 persen secara tahunan (yoy). Nilai PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp89,27 triliun, sementara sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum menjadi kontributor terbesar dengan porsi 21,91 persen terhadap perekonomian Bali.
Direktur Consumer & Branch Banking Permata Bank, Eddie Sajoga, mengatakan Bali menjadi gambaran penting mengenai bagaimana keseimbangan harus dijaga di tengah perubahan.
“Bali mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keseimbangan di tengah perubahan. Nilai tersebut sejalan dengan tema Wealth Wisdom tahun ini, Finding Balance, Building Resilience. Kami ingin terus mendampingi nasabah untuk menghadapi perubahan, menjaga apa yang berharga, dan memanfaatkan peluang untuk tumbuh bersama,” ujar Eddie.
Menurutnya, pengelolaan kekayaan tidak semata-mata berbicara mengenai besaran aset maupun hasil investasi. Lebih jauh, wealth management berkaitan dengan tujuan hidup, keluarga, hingga apa yang ingin dipersiapkan untuk masa depan.
“Bagi kami, kekayaan bukan hanya soal angka atau hasil investasi, tetapi juga tentang apa yang ingin kita jaga dan persiapkan bagi orang-orang yang kita sayangi,” katanya.
Memasuki penyelenggaraan tahun ke-12, Wealth Wisdom diharapkan menjadi ruang edukasi sekaligus pertukaran perspektif mengenai perjalanan mengelola kekayaan secara lebih menyeluruh.
Investor Diminta Tak Hanya Melihat Peluang
Dalam sesi “Turning Economic Shifts into Opportunities”, Financial Educator Gema Goeyardi dan Director Batavia Prosperindo Aset Management Eri Koesnadi membahas berbagai faktor ekonomi global dan domestik yang dapat memengaruhi pasar.
Gema menyoroti bahwa perubahan kebijakan perdagangan, harga minyak, hingga kondisi likuiditas global dapat memberikan dampak berantai terhadap nilai tukar, inflasi, suku bunga, maupun berbagai kelas aset.
Karena itu, investor dinilai perlu memahami konteks makroekonomi sebelum menentukan alokasi dana.
“Di tengah kondisi ekonomi yang terus berubah, kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting. Investor perlu memahami bagaimana perubahan makroekonomi dapat memengaruhi berbagai sektor dan aset sebelum menentukan ke mana dana akan dialokasikan,” ujar Gema.
Ia menambahkan, analisis makroekonomi sebaiknya tidak berdiri sendiri. Pemahaman tersebut perlu dilengkapi dengan analisis fundamental dan valuasi agar keputusan investasi dapat disesuaikan dengan profil risiko serta tujuan finansial.
Sementara Eri menyoroti sejumlah indikator yang perlu menjadi perhatian investor, mulai dari arah suku bunga Amerika Serikat, inflasi, kondisi fiskal, harga energi hingga perkembangan investasi di sektor teknologi, termasuk kecerdasan artifisial atau AI.
Menurutnya, perubahan pada indikator-indikator tersebut dapat berdampak terhadap likuiditas dan pergerakan berbagai aset di pasar.
“Pasar bersifat dinamis dan tidak ada satu kondisi yang dapat dipastikan akan berlangsung selamanya. Karena itu, investor perlu melihat berbagai indikator secara menyeluruh,” kata Eri.
Ia menekankan pentingnya melakukan evaluasi secara berkala terhadap alokasi aset, tingkat risiko, serta kesesuaian strategi dengan kondisi ekonomi maupun perubahan prioritas finansial.
Wealth Management Tak Lagi Sekadar Mengejar Return
Permata Bank juga membawa perspektif yang lebih luas dalam Wealth Wisdom 2026. Pengelolaan kekayaan tidak hanya ditempatkan dalam konteks investasi, tetapi juga dikaitkan dengan berbagai fase kehidupan.
Enam pilar yang diangkat tahun ini yakni Frugality, Purpose, Health, Relation, Giving, dan Moments.
Enam pilar tersebut menggambarkan bahwa membangun kekayaan bukan sekadar mengejar pertumbuhan aset, tetapi juga bagaimana kekayaan digunakan untuk mendukung tujuan personal, keluarga, bisnis, kesehatan, hubungan sosial, hingga persiapan legacy bagi generasi berikutnya.
Pendekatan tersebut kemudian didukung melalui pendampingan Relationship Manager, solusi wealth management yang disesuaikan dengan kebutuhan nasabah, serta kemudahan digital melalui Digital Transaction Assistance (DiTA).
Permata Bank juga memperluas perspektif lintas generasi melalui program Next Gen Trip to Shanghai 2026, yang ditujukan bagi generasi muda dari keluarga nasabah Priority dan Private. Program tersebut memberikan kesempatan untuk memperluas wawasan global, kepemimpinan dan perspektif bisnis melalui kunjungan ke universitas serta perusahaan di Shanghai.
Setelah Bali, rangkaian Wealth Wisdom 2026 akan berlanjut ke Medan pada 23 September, Bandung 30 September, Surabaya 7 Oktober, dan ditutup di Jakarta pada 22 Oktober 2026.
Wealth Wisdom 2026 pada akhirnya menempatkan kemampuan beradaptasi sebagai bagian penting dalam perjalanan mengelola kekayaan. Di tengah perubahan ekonomi yang sulit dipastikan arahnya, investor didorong untuk tidak hanya mencari peluang, tetapi juga memastikan setiap keputusan tetap sejalan dengan risiko dan tujuan finansial yang ingin dicapai.



