Dari Endek ke Panggung Dunia, Putri Koster Dorong Bali Jadi Kiblat Mode

IMG-20260920-WA0006
Sumber Foto: Humas

 

GIANYAR, Beritarealitas.com – Kain tenun tradisional Bali tak lagi sekadar warisan budaya yang tersimpan dalam lemari atau dikenakan pada momentum tertentu. Di tangan para desainer, kain endek dan berbagai kain berciri khas Bali mulai menemukan wajah baru sebagai bagian dari industri fesyen modern.

Semangat itulah yang terlihat dalam Tuksedo Auto and Fashion Gala 2026 di Tuksedo Studio, Gianyar, Jumat (19/9/2026). Gelaran yang memadukan dunia otomotif dan fesyen tersebut turut mendapat apresiasi dari Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster.

Bagi Putri Koster, panggung semacam ini penting bukan hanya untuk memamerkan karya, tetapi juga membuka jalan agar kekayaan kain tradisional Bali memiliki nilai tambah sekaligus menjangkau pasar yang lebih luas.

Ia mendorong agar kegiatan yang mempertemukan desainer, pelaku industri kreatif, perajin dan berbagai sektor lainnya tidak berhenti sebagai acara sesaat. Ruang kreativitas tersebut, menurutnya, harus terus dibangun secara konsisten dan berkelanjutan.

“Teruslah digaungkan, angkat juga kearifan tenun tradisional kita, hingga suatu saat Bali tidak hanya terkenal karena tariannya, tidak hanya terkenal dengan tembangnya, tetapi suatu saat nanti Bali bisa menjadi kiblat mode dunia selain negara-negara di Eropa,” ujar Putri Koster.

Pernyataan tersebut menggambarkan sebuah mimpi besar: membawa identitas Bali keluar dari batas-batas pariwisata dan seni pertunjukan, menuju industri fesyen dunia dengan kain tradisional sebagai salah satu kekuatan utamanya.

Namun, Putri Koster menyadari bahwa mimpi tersebut tidak dapat diwujudkan dalam waktu singkat. Dibutuhkan proses panjang, konsistensi, promosi dan keberanian para desainer untuk terus menciptakan karya baru tanpa kehilangan akar budayanya.

Ia mencontohkan kiprah desainer Bali, Nyoman Adi melalui TAKSU, yang telah memperoleh kesempatan memperkenalkan karyanya dalam agenda fesyen di luar negeri, termasuk Paris dan Jepang.

Baca Juga:  Gerindra Tanggapi Isu Kenaikan UMP Bali, De Harja: Tapi Benarkah Pekerja Makin Sejahtera?

Pengalaman tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa karya yang lahir dari Bali memiliki peluang untuk mendapatkan perhatian di panggung internasional. Tantangannya adalah bagaimana semakin banyak desainer lokal mengikuti jejak tersebut dan menjadikan kekayaan budaya Bali sebagai sumber inspirasi yang terus berkembang.

“Semoga dari acara ini akan bangkit desainer-desainer Bali lainnya,” harapnya.

Ketika Otomotif Bertemu Tenun Bali

Tuksedo Auto and Fashion Gala 2026 sendiri menghadirkan perpaduan yang tidak biasa. Dunia otomotif dipertemukan dengan dunia fesyen dalam satu panggung kreatif.

CEO Tuksedo Studio, Pudji Handoko, menyampaikan bahwa gelaran tersebut sekaligus menjadi momentum peluncuran First Lady, kendaraan yang dirancang di Bali dengan konsep terinspirasi mobil klasik era 1930-an serta pengaruh gaya Art Deco.

Peluncuran kendaraan tersebut kemudian dipadukan dengan peragaan busana yang menampilkan karya para desainer menggunakan kain tenun endek dan kain berciri khas Bali lainnya.

Perpaduan ini memperlihatkan bahwa kreativitas berbasis budaya tidak harus hadir dalam bentuk yang konvensional. Tradisi dapat bertemu dengan desain modern, otomotif, teknologi dan industri kreatif untuk menciptakan karya yang memiliki karakter sekaligus nilai ekonomi. (gk)