Foto: 6th International Zero Suicide Summit 2026, Selasa (13/10/2026). (Sumber: Tim)
DENPASAR, Beritarealitas.com – Bali kembali menjadi panggung pertemuan dunia. Kali ini, bukan sekadar pariwisata dan budaya yang menjadi sorotan, melainkan misi kemanusiaan untuk mencegah bunuh diri dan menyelamatkan lebih banyak nyawa.
Untuk pertama kalinya, Indonesia menjadi tuan rumah 6th International Zero Suicide Summit 2026, forum internasional yang mempertemukan ratusan delegasi dari lebih dari 30 negara di The Apurva Kempinski, Bali, pada 13–14 Oktober 2026.
Mengusung tema “Turning the Tide Toward Zero”, pertemuan ini membawa pesan kuat bahwa pencegahan bunuh diri bukan hanya urusan individu, tetapi tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan sistem kesehatan, pemerintah, akademisi, komunitas, hingga masyarakat luas.
Executive Director Zero Suicide International, Brian Ahmedani, menegaskan bahwa upaya pencegahan harus dibangun melalui sistem yang terintegrasi, penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan komunitas, serta penerapan praktik berbasis bukti secara berkelanjutan.
“Pencegahan suicide membutuhkan lebih dari sekadar intervensi pada tingkat individu. Kita membutuhkan sistem yang mampu bekerja secara terintegrasi, memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dan komunitas, serta memastikan praktik berbasis bukti dapat diterapkan secara berkelanjutan,” tegas Brian.
Menurutnya, Summit ini menjadi ruang untuk mempertemukan pembelajaran dari berbagai negara sekaligus memperkuat komitmen global dalam mencegah hilangnya nyawa akibat bunuh diri.
Di balik tema “Turning the Tide Toward Zero”, tersimpan refleksi tentang pentingnya mengubah arah penanganan melalui aksi kolektif, inovasi, dan kemitraan lintas negara. Inspirasi pasang surut air laut serta nilai air dalam kebudayaan Bali menjadi simbol bahwa perubahan membutuhkan gerakan bersama dan komitmen yang berkelanjutan.
Founder & Chairman Wellspring Center Indonesia, Sandersan Onie, PhD, yang juga merupakan peneliti Harvard Medical School dan bagian dari Steering Committee Summit, menilai penyelenggaraan forum ini sebagai peluang strategis untuk mempertemukan bukti ilmiah global dengan realitas masyarakat Indonesia.
“Indonesia memiliki keragaman sosial dan budaya yang perlu menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan bunuh diri. Karena itu, kita tidak dapat hanya mengadopsi pendekatan dari negara lain tanpa memahami konteks lokal,” ujarnya.
Sandersan menegaskan, pendekatan pencegahan perlu mempertimbangkan pengetahuan, kebutuhan, serta karakteristik masyarakat agar kolaborasi internasional mampu menghasilkan langkah nyata yang relevan di tingkat lokal.
Selama dua hari, Summit menghadirkan sesi pleno, diskusi panel, dan poster ilmiah yang membahas berbagai strategi pencegahan. Mulai dari penguatan sistem kesehatan nasional dan kerja sama lintas negara, pemanfaatan teknologi digital serta Electronic Health Records (EHR), hingga peningkatan kapasitas komunitas dan tenaga kesehatan.
Forum ini juga mengangkat pendekatan berbasis budaya melalui seni dan musik, termasuk pentingnya melibatkan individu dengan pengalaman hidup atau lived experience dalam merancang upaya pencegahan yang lebih manusiawi.
Sejumlah tokoh Indonesia turut ambil bagian, di antaranya perwakilan Kementerian Kesehatan RI, dr. Imran Pambudi, MPHM, serta Greysia Polii sebagai tokoh publik dan advokat. Mereka bergabung dengan para pakar dan praktisi kesehatan jiwa dari Amerika Serikat serta berbagai negara lainnya.
Kehadiran lintas sektor ini menegaskan bahwa pencegahan bunuh diri tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan mental. Diperlukan lingkungan sosial yang mendukung, kebijakan yang tepat, tenaga profesional yang kompeten, serta keberanian masyarakat untuk membuka ruang bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan. (gk)



