Bali Bidik Peluang Global di Xi’an, Kerja Sama Kota Persahabatan Tak Cukup Berhenti di Atas Kertas

IMG-20261021-WA0007
Sumber Foto: Agus Maha Usadha.

 

TIONGKOK, Beritarealitas.com – Bali mulai memperkuat langkah diplomasi global. Bukan sekadar memperluas jaringan persahabatan, tetapi juga membuka peluang kolaborasi konkret di bidang pariwisata berkelanjutan, teknologi hijau, hingga pengelolaan sumber daya air.

Langkah tersebut mengemuka dalam Konferensi Kota Persahabatan Internasional Tiongkok (China International Friendship Cities Conference/CIFC) 2026 yang digelar di Xi’an, Tiongkok. Bali turut menghadiri upacara pembukaan konferensi yang berlangsung di Xi’an International Convention Centre, Rabu (21/10/2026).

Agus Maha Usadha selaku Ketua Eksekutif Perhimpunan Persahabatan Indonesia Tiongkok dan Ketua Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali, menjadi salah satu tokoh dari Bali yang hadir dalam forum internasional tersebut, menerangkan bahwa konferensi yang diselenggarakan Asosiasi Persahabatan Rakyat Tiongkok dengan Negara Asing (CPAFFC) bersama Pemerintah Provinsi Shaanxi itu mempertemukan para pemimpin dan perwakilan berbagai negara untuk membahas masa depan kerja sama antarkota.

“Bagi Bali, forum ini bukan sekadar kesempatan untuk menjalin persahabatan dengan berbagai negara dan kota di dunia. Yang lebih penting adalah bagaimana hubungan tersebut bisa dikembangkan menjadi kerja sama konkret, baik di bidang pariwisata berkelanjutan, teknologi hijau, pendidikan, maupun pertukaran budaya,” ujar Agus melalui WhatsApp.

Menurutnya, di tengah persaingan global dan tantangan pembangunan yang semakin kompleks, forum ini menjadi ruang strategis bagi Bali untuk menjajaki peluang kemitraan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Ia juga menilai tantangan pembangunan saat ini tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan lokal. Persoalan perubahan iklim, ketersediaan air bersih, dan keberlanjutan pariwisata membutuhkan pertukaran pengalaman serta inovasi lintas negara.

“Bali memiliki karakter dan potensi yang kuat, terutama dalam pariwisata dan kebudayaan. Melalui forum seperti ini, kita dapat belajar dari pengalaman daerah lain, sekaligus memperkenalkan potensi Bali untuk membangun kemitraan yang saling menguntungkan,” lanjutnya.

Baca Juga:  Uji Kompetensi Bukan Sekadar Sertifikat, Penguji Tekankan Kesiapan SDM Pariwisata

Agus Maha Usadha menilai kehadiran Bali dalam Konferensi Kota Persahabatan Internasional Tiongkok 2026 menjadi kesempatan strategis untuk memperluas jejaring internasional sekaligus membuka peluang kolaborasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Pada akhirnya, keberhasilan sebuah kerja sama bukan hanya diukur dari seberapa luas jaringan yang dibangun, tetapi juga dari manfaat nyata yang dihasilkan. Bali perlu memastikan bahwa setiap peluang kolaborasi dapat mendukung kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dan budaya,” imbuhnya.

Sementara, Wakil Presiden CPAFFC, Lu Xiangdong, dalam pembukaan konferensi menekankan pentingnya kolaborasi global melalui inovasi serta kerja sama antarmasyarakat (people-to-people). Bidang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan perencanaan perkotaan berkelanjutan menjadi bagian penting dalam membangun hubungan antarnegara.

Sementara itu, mantan Presiden Moldova, Igor Dodon, mengingatkan bahwa persahabatan internasional perlu diperkuat di berbagai tingkatan. Ia juga menyoroti tantangan bersama yang tidak mengenal batas negara, terutama pemanasan global dan persoalan sumber daya air.

Pesan tersebut memiliki relevansi tersendiri bagi Bali. Sebagai destinasi pariwisata dunia, keberlanjutan lingkungan dan ketersediaan air menjadi persoalan penting yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, aktivitas ekonomi, serta masa depan industri pariwisata.

Mantan Perdana Menteri Rumania, Viorica Dancila, turut menegaskan bahwa kerja sama internasional tidak semestinya berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU).

Menurutnya, teknologi dan investasi harus mampu menghadirkan pelayanan publik yang bersih, ramah, dan bermanfaat bagi masyarakat. Kebijakan yang dibangun melalui hubungan antarnegara juga harus diterjemahkan menjadi manfaat nyata di tingkat komunitas.

Pandangan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan diplomasi bukan semata-mata banyaknya pertemuan atau dokumen kerja sama, melainkan sejauh mana masyarakat merasakan dampaknya.

Dari Republik Kirgizstan, Bakut Torobaev menyoroti pentingnya konektivitas infrastruktur, termasuk jalur kereta api dan jalan raya. Ia juga mengusulkan pengembangan rute pariwisata bersama untuk menarik lebih banyak wisatawan asal Tiongkok.

Baca Juga:  Penuhi Panggilan Klarifikasi Propam Polda Bali, Made Ariel Ungkap Dugaan Pengaduan Mengatasnamakan Tim Hukum Made Daging

Adapun Wakil Ketua Kongres Rakyat Nasional Tiongkok, Zhang Qingwei, dalam pidato utamanya mengangkat sejarah Xi’an sebagai titik awal Jalur Sutra yang sejak dahulu menjadi penghubung perdagangan dan pertukaran budaya lintas wilayah.

Ia mendorong empat pilar kerja sama masa depan, yakni pengembangan kota cerdas dan layak huni, peningkatan taraf hidup masyarakat, inovasi hijau, serta pertukaran budaya.

Empat pilar tersebut membuka ruang pembicaraan yang lebih luas. Pengembangan pariwisata berkualitas, pemanfaatan teknologi ramah lingkungan, peningkatan kualitas pelayanan publik, hingga pertukaran pengetahuan dan budaya dapat menjadi bagian dari agenda kemitraan internasional. (gk)

Anda tidak dapat mengambil content ini