Dari Endek Bali Menuju Panggung Mode Dunia, Putri Koster Dorong Desainer Lokal Berani Go International

IMG-20260921-WA0007
Sumber Foto: Humas

 

GIANYAR, Beritarealitas.com — Kain tenun endek Bali tak lagi sekadar dipandang sebagai bagian dari busana tradisional. Di tangan para desainer kreatif, kain warisan budaya tersebut memiliki peluang untuk bertransformasi menjadi karya fesyen bernilai tinggi dan menembus panggung internasional.

Semangat itulah yang mengemuka dalam Tuksedo Auto and Fashion Gala 2026 di Tuksedo Studio, Gianyar, Jumat (18/9/2026). Gelaran yang memadukan dunia otomotif dan fesyen itu mendapat apresiasi dari Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster.

Menurut Putri Koster, keberadaan ruang kreatif seperti gala tersebut penting untuk membangun ekosistem fesyen Bali secara berkelanjutan. Tidak hanya memberi kesempatan kepada desainer untuk berkarya, tetapi juga membuka ruang lebih luas bagi kain tradisional Bali agar memiliki nilai tambah sekaligus semakin dikenal di tingkat nasional dan internasional.

Ia mendorong agar kain endek dan kekayaan tekstil tradisional Bali tidak berhenti sebagai simbol budaya, tetapi terus dikembangkan menjadi bagian dari industri kreatif modern.

“Teruslah digaungkan, angkat juga kearifan tenun tradisional kita, hingga suatu saat Bali tidak hanya terkenal karena tariannya, tidak hanya terkenal dengan tembangnya, tetapi suatu saat nanti Bali bisa menjadi kiblat mode dunia selain negara-negara di Eropa,” ujar Putri Koster.

Ia menyadari, menjadikan Bali sebagai salah satu pusat mode membutuhkan proses panjang. Konsistensi, keberanian berinovasi, promosi, serta dukungan lintas sektor dinilai menjadi bagian penting agar karya desainer Bali mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Putri Koster pun mencontohkan kiprah desainer Bali, Nyoman Adi melalui TAKSU, yang telah memperoleh kesempatan memperkenalkan karya di berbagai agenda fesyen luar negeri, termasuk Paris dan Jepang.

Baca Juga:  Bali Jadi Pilot Project Nasional Dokumen Kependudukan Anak Terlantar, Koster Siap Pimpin Akselerasi Se-Bali

Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa karya yang berakar dari budaya lokal memiliki peluang untuk mendapatkan perhatian di panggung internasional ketika dikemas secara kreatif dan profesional.

“Semoga dari acara ini akan bangkit desainer-desainer Bali lainnya,” harapnya.

Otomotif dan Fesyen dalam Satu Panggung

Sementara itu, CEO Tuksedo Studio, Pudji Handoko, mengatakan Tuksedo Auto and Fashion Gala 2026 menjadi momentum untuk memperkenalkan First Lady, kendaraan yang dirancang di Bali dengan konsep yang terinspirasi mobil klasik era 1930-an serta sentuhan gaya Art Deco.

Peluncuran kendaraan tersebut kemudian dipadukan dengan peragaan busana yang menampilkan karya sejumlah desainer dengan menggunakan kain endek Bali dan kain berciri khas Bali lainnya.

Perpaduan otomotif dan fesyen tersebut menghadirkan sebuah panggung kreatif lintas bidang. Di satu sisi, teknologi dan desain otomotif ditampilkan melalui karya kendaraan; di sisi lain, identitas budaya Bali diterjemahkan ke dalam bahasa fesyen kontemporer.

Bagi Dekranasda Provinsi Bali, ruang-ruang kreativitas semacam ini menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan produk budaya dalam industri kreatif.

Pengembangan kain tradisional tidak hanya berkaitan dengan upaya menjaga warisan budaya, tetapi juga bagaimana menciptakan nilai ekonomi bagi perajin, membuka peluang bagi desainer, serta meningkatkan daya saing produk Bali.

Dengan semakin banyaknya panggung kreatif yang mempertemukan budaya, fesyen, desain dan industri, kain endek diharapkan mampu bergerak lebih jauh—dari ruang tradisi menuju industri mode yang memiliki daya saing hingga ke pasar global. (gk)