Sumber Foto: Humas
DENPASAR, Beritarealitas.com — Di tengah mahalnya pupuk anorganik dan menurunnya kesuburan tanah, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Warmadewa (Unwar) menghadirkan solusi sederhana berbasis potensi lokal di Desa Oesao, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bukan teknologi mahal, mahasiswa justru mengajak masyarakat mengubah limbah kotoran sapi dan jerami padi yang selama ini belum termanfaatkan optimal menjadi pupuk organik kaya hara melalui teknik fermentasi.
Inovasi tersebut menjadi bagian dari rangkaian KKN Unwar yang berlangsung 20 Juli hingga 5 September 2026. Program ini menyasar persoalan yang dihadapi petani hortikultura Oesao, terutama komoditas bawang merah dan sayur-mayur yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Unwar, Ir. I Nyoman Kaca, M.Si., mengatakan Desa Oesao memiliki potensi pertanian dan peternakan yang besar. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan pengelolaan limbah yang optimal.
“Potensi bahan baku lokal di Desa Oesao melimpah. Melalui pelatihan dan praktik langsung pembuatan pupuk organik fermentasi, kami mendorong pemanfaatan kotoran sapi dan jerami padi agar limbah tak lagi mencemari lingkungan, melainkan memberikan nilai tambah ekonomi serta ekologi bagi masyarakat,” ujar Nyoman Kaca saat ditemui di Denpasar, Rabu (16/9/2026).
Melalui proses fermentasi, limbah pertanian dan peternakan tersebut diolah menjadi pupuk organik yang mengandung unsur hara makro dan mikro. Pupuk ini diharapkan membantu memperbaiki kesuburan tanah sekaligus mendukung pertumbuhan tanaman.
Bagi petani, inovasi tersebut juga menawarkan manfaat lain: mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia yang harganya relatif sulit dijangkau. Bahan baku yang tersedia di sekitar desa dapat diolah menjadi sumber nutrisi tanaman dengan biaya produksi yang lebih rendah.
Tak hanya menyasar petani, program ini juga melibatkan kelompok tani, pemuda, dan masyarakat. Antusiasme warga menjadi modal penting agar keterampilan yang diperoleh selama KKN tidak berhenti setelah mahasiswa meninggalkan desa.
Dari limbah yang sebelumnya dipandang sebagai persoalan, masyarakat kini didorong melihatnya sebagai sumber daya. Langkah sederhana itu sekaligus membuka peluang bagi Desa Oesao untuk membangun pertanian yang lebih mandiri, hemat biaya, dan ramah lingkungan.
Program KKN Unwar ini pun diharapkan menjadi pijakan awal bagi penguatan kemandirian petani, sekaligus mendukung ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat. (gk)



