Lawan Overthinking Tanpa Terus Dihantui Kecemasan, Begini Kata Dokter Wayan Mustika

stop-overthink
Ilustrasi Overthinking. (Istimewa)

 

DENPASAR, Beritarealitas.com – Pikiran yang terus berputar, kekhawatiran terhadap sesuatu yang belum terjadi, hingga rasa takut menghadapi masa depan kerap membuat seseorang kehilangan ketenangan.

Kondisi yang dikenal sebagai overthinking ini bisa dialami siapa saja, tanpa memandang seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki.

Dokter asal Bali, dr. I Wayan Mustika, mengingatkan bahwa terlalu sedikit maupun terlalu banyak pengetahuan sama-sama dapat memicu kecemasan apabila tidak disikapi secara bijak.

Menurutnya, orang yang minim informasi bisa dihantui bayangan tentang hal-hal yang belum dipahaminya. Sebaliknya, mereka yang mengetahui banyak hal juga berpotensi terjebak dalam berbagai kemungkinan buruk yang terus berputar di dalam pikiran.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar seberapa banyak seseorang mengetahui sesuatu, melainkan bagaimana ia mengelola pengetahuan dan pikirannya agar tidak berubah menjadi sumber ketakutan.

Untuk membantu meredakan overthinking, dr. I Wayan Mustika membagikan empat langkah sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yakni Do Affirmation, Do Attraction, Do Alteration, dan Do Action.

  • Pertama, Do Affirmation atau afirmasi positif.

Langkah ini dilakukan dengan menanamkan kalimat-kalimat positif kepada diri sendiri, terutama sebelum tidur atau saat bermeditasi. Kalimat sederhana seperti, “Mulai malam ini, aku adalah pribadi yang tenang, damai, dan pemberani,” dapat digunakan sebagai pengingat untuk menghadapi keadaan dengan lebih tenang.

  • Kedua, Do Attraction atau menarik pikiran positif.

Seseorang diajak membayangkan situasi yang damai dan masa depan yang lebih baik, alih-alih terus-menerus memikirkan kemungkinan buruk. Dengan mengarahkan perhatian pada gambaran yang positif, seseorang dapat berlatih menghadapi ketidakpastian tanpa selalu dikuasai rasa takut.

  • Ketiga, Do Alteration atau mengubah pola pikiran.

Ketika muncul pertanyaan yang memicu kecemasan, seperti, “Jangan-jangan ada apa-apa?”, cobalah menggantinya dengan kalimat yang lebih menenangkan, seperti, “Saya akan menghadapi keadaan ini dengan tenang.”

Baca Juga:  Penerimaan Pajak Bali Tembus Rp12,69 Triliun, Baru 58,45 Persen dari Target 2026

Mengubah cara berbicara kepada diri sendiri dapat membantu seseorang mengambil jarak dari pikiran yang menakutkan, sehingga tidak langsung bereaksi secara berlebihan terhadap setiap kekhawatiran yang muncul.

  • Keempat, Do Action atau tindakan nyata

Menurut pendekatan yang dibagikan dr. I Wayan Mustika, mengelola pikiran juga perlu dibarengi tindakan fisik. Salah satunya melalui pernapasan perut dengan tarikan napas perlahan dan nyaman untuk membantu tubuh menjadi lebih rileks.

Selain itu, metode tapping atau ketukan ringan pada sejumlah titik tubuh, seperti dahi, bawah mata, dagu, hingga dada, dapat dipadukan dengan afirmasi positif sebagai latihan relaksasi.

Aktivitas sehari-hari seperti menyapu, bekerja, berjalan kaki, atau berolahraga juga bisa menjadi cara mengalihkan perhatian dari lingkaran pikiran yang berlebihan.

Pesan yang ingin ditekankan, pikiran tidak harus selalu diikuti atau dipercaya begitu saja. Kekhawatiran terhadap masa depan belum tentu menjadi kenyataan, sementara terus-menerus memikirkannya tidak otomatis membuat seseorang lebih siap menghadapinya.

Meski demikian, afirmasi, visualisasi, latihan pernapasan, dan aktivitas fisik bukan pengganti penanganan profesional.

Jika kecemasan berlangsung terus-menerus, mengganggu tidur, pekerjaan, atau kehidupan sehari-hari, mencari bantuan psikolog maupun tenaga kesehatan merupakan langkah yang patut dipertimbangkan. (gk)

Anda tidak dapat mengambil content ini