Lima Wartawan Hilang di Tengah Erupsi Anak Krakatau, FPRMI Desak Operasi SAR Tak Berhenti

IMG-20260910-WA0028
Sumber foto: Istimewa

 

JAKARTA, Beritarealitas.com — Di tengah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengundang perhatian publik, delapan orang justru masih menjadi tanda tanya. Lima di antaranya merupakan wartawan foto yang berangkat ke kawasan perairan Anak Krakatau untuk menjalankan tugas jurnalistik, namun hingga Rabu (9/9/2026) belum diketahui keberadaannya.

Kabar tersebut memantik keprihatinan sekaligus desakan agar pencarian dilakukan secara maksimal. Forum Pimpinan Redaksi Multimedia Indonesia (FPRMI) meminta aparat kepolisian bersama Tim SAR gabungan tidak mengendurkan operasi hingga kelima jurnalis dan tiga orang lainnya yang ikut dalam rombongan berhasil ditemukan.

Sekretaris Jenderal FPRMI, Helmy Halim, menegaskan keselamatan para jurnalis menjadi perhatian serius keluarga besar insan pers. Ia meminta seluruh unsur yang terlibat dalam operasi pencarian bergerak cepat, mengingat kondisi di sekitar Gunung Anak Krakatau yang masih memiliki risiko tinggi.

“Kami meminta pihak aparat bertindak cepat dan melakukan upaya maksimal untuk menemukan kelima jurnalis tersebut,” tegas Helmy seusai acara Ngobrol Santai (Ngobras) FPRMI bersama Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir di Hotel Luminor, Pecenongan, Jakarta Pusat, Rabu (9/9/2026).

Bagi keluarga para jurnalis, setiap perkembangan pencarian menjadi penentu harapan. Karena itu, FPRMI juga menyampaikan keprihatinan kepada keluarga yang hingga kini masih menunggu kabar mengenai keberadaan orang-orang terdekat mereka.

“Kami berharap dan berdoa semoga kelima rekan jurnalis tersebut segera ditemukan dalam keadaan selamat. Kami juga menyampaikan keprihatinan kepada keluarga yang saat ini menunggu kabar dari tim pencarian,” ujar Helmy.

 

Komunikasi Terputus di Laut

Lima wartawan foto tersebut sebelumnya berangkat dari kawasan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada 7 September 2026. Mereka bersama seorang kapten kapal, seorang anak buah kapal (ABK), dan seorang pemandu menuju perairan sekitar Gunung Anak Krakatau untuk mendapatkan gambar secara langsung dari lokasi erupsi.

Baca Juga:  Guruh Soekarnoputra Berpulang, Sang Seniman yang Melampaui Nama Besar Bung Karno

Namun perjalanan peliputan itu berubah menjadi operasi pencarian.

Berdasarkan informasi Basarnas, posisi terakhir rombongan diketahui berada sekitar 18,5 kilometer dari garis pantai sebelum komunikasi dengan mereka dilaporkan terputus.

Sejak saat itu, keberadaan delapan orang tersebut belum diketahui secara pasti. Tim SAR gabungan terus menyisir kawasan yang diduga menjadi lokasi terakhir rombongan.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir mengatakan, Polri terus memantau perkembangan operasi pencarian. Informasi mengenai proses tersebut secara berkala diterima dari Kapolda Banten.

“Secara berkala, kami mendapat laporan dari Kapolda Banten mengenai perkembangan pencarian wartawan dan tiga orang lainnya yang masih hilang,” kata Isir.

Ia juga mengajak keluarga wartawan dan masyarakat memberikan dukungan kepada tim gabungan yang tengah bekerja di lapangan.

“Semoga korban yang hilang segera ditemukan dalam keadaan selamat dan sehat,” ujarnya.

Kapolda Temui Keluarga

Di tengah pencarian, Kapolda Banten Irjen Pol. Hengki mendatangi Posko Utama SAR Gabungan di Pandeglang, Rabu (9/9/2026). Dalam kunjungan tersebut, Hengki berdialog dengan sejumlah keluarga korban, termasuk para istri wartawan yang masih menunggu kepastian nasib suami mereka.

Kepada keluarga, harapan sederhana menjadi yang paling utama.

“Semoga tidak terjadi apa-apa, ya,” ujar Hengki.

Ia memastikan kepolisian bersama Tim SAR gabungan dan unsur masyarakat masih melakukan pencarian terhadap seluruh korban yang dilaporkan hilang.

 

Ketika Naluri Jurnalistik Berujung Risiko

Di sisi lain, Dewan Pembina FPRMI Hendry Ch. Bangun menyoroti keberanian para jurnalis yang memilih berada dekat dengan sumber peristiwa demi mendapatkan informasi dan dokumentasi secara langsung.

Mantan wartawan senior Harian Kompas tersebut menilai kehadiran jurnalis di lokasi kejadian masih memiliki peran penting di tengah derasnya arus informasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan.

Baca Juga:  Perupa Payangan Bongkar Belenggu Tradisi, 38 Karya Bicara dari Santrian Art Gallery

Menurutnya, gambar dan informasi yang diperoleh langsung dari lapangan bukan sekadar bahan pemberitaan, tetapi juga bagian dari proses verifikasi terhadap sebuah peristiwa.

“Naluri jurnalistik teman-teman ini patut diapresiasi. Mereka mau bersusah-payah dan terjun langsung ke lokasi untuk mendapatkan informasi serta gambar yang dapat disampaikan kepada masyarakat,” tegas Hendry.

Namun di balik apresiasi tersebut, hilangnya lima wartawan foto menjadi pengingat keras bahwa kerja jurnalistik di wilayah bencana memiliki konsekuensi keselamatan yang tidak kecil.

Gunung Anak Krakatau saat ini menjadi perhatian menyusul aktivitas erupsi yang disertai keluarnya abu vulkanik, lava, dan material pijar. Di tengah kondisi tersebut, lima jurnalis bersama tiga orang lainnya justru belum diketahui keberadaannya setelah komunikasi dengan rombongan terputus.

Kini, yang tersisa bukan sekadar penantian atas sebuah kabar. Di posko pencarian, keluarga menunggu kepastian. Di laut, tim SAR terus menyisir kawasan yang diduga menjadi titik terakhir keberadaan rombongan.

FPRMI berharap pencarian dilakukan secara optimal dan tidak berhenti sebelum seluruh korban berhasil ditemukan.

Delapan orang masih dicari. Lima di antaranya datang untuk bekerja, membawa kamera dan naluri jurnalistik. Kini, keluarga mereka hanya menunggu satu hal: kabar bahwa mereka ditemukan dalam keadaan selamat.