THK Awards 2026 Dimulai: Menguji Arah Pariwisata Bali

Screenshot_20260909-153229_1
Foto: Kolase THK Awards 2026. (Sumber: Gung Kris)

 

DENPASAR, Beritarealitas.com — Di tengah derasnya pembangunan pariwisata yang terus mengubah wajah Pulau Dewata, sebuah gerakan kembali mengetuk kesadaran industri hotel Bali. THK Awards 2026 mulai memasuki tahap penilaian pada Sabtu (12/9/26), dengan membawa pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar mencari hotel terbaik dalam menerapkan konsep Tri Hita Karana.

Tahun ke-26 penyelenggaraannya, Yayasan THK Awards mengusung tagline “Save Bali by Implementing Tri Hita Karana – THK Awards.” Kalimat tersebut menjadi semacam alarm bahwa persoalan Bali hari ini bukan lagi sebatas bagaimana mendatangkan wisatawan, tetapi bagaimana memastikan pariwisata tidak justru menggerus fondasi kehidupan Bali itu sendiri.

Assessment tahun ini memberikan keleluasaan kepada hotel peserta untuk menentukan kapan mereka siap menerima kunjungan assessor. Yayasan telah menyiapkan kuesioner self-assessment dan buku “Etika Pariwisata Global” sebagai instrumen untuk mengukur sejauh mana prinsip Tri Hita Karana diterapkan dalam praktik pengelolaan pariwisata.

Konsep THK sendiri ditempatkan tidak hanya sebagai nilai lokal Bali. Yayasan menegaskan bahwa konsep tersebut telah ditetapkan sebagai bagian dari implementasi Global Code of Ethics for Tourism, sebuah kerangka etika pariwisata dunia yang lahir dari resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa bidang pariwisata.

Dengan demikian, penilaian THK Awards tidak berhenti pada pertanyaan apakah sebuah hotel memiliki program lingkungan atau kegiatan sosial. Lebih jauh, konsep ini menguji keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam—tiga fondasi yang dianggap semakin penting ketika industri pariwisata berkembang begitu cepat.

Hotel pertama yang menyatakan kesiapan menjalani assessment adalah Wapa di Ume Sidemen, resor butik mewah bintang lima yang berada di kawasan lembah hijau Desa Sidemen, Karangasem. Tim THK hotel tersebut dijadwalkan menyambut assessor pada Sabtu (12/9).

Baca Juga:  ITDC Kembali Raih Bali Tourism Awards, The Nusa Dua Diakui Beri Manfaat bagi Masyarakat

Ketua Yayasan THK Awards, I Gusti Ngurah Wisnu Wardana, mengatakan tahun ini terdapat 55 hotel yang akan menjalani penilaian, dengan sekitar 50 assessor yang siap melakukan tugas tersebut.

Angka itu sekaligus menjadi bagian dari perjalanan panjang THK Awards. Selama 25 tahun penyelenggaraan, lebih dari 550 hotel di seluruh Bali telah menjalani assessment. Sebanyak 14 hotel bahkan telah menerima penghargaan Lifetime Achievement THK Awards.

Namun, di balik capaian tersebut, Wisnu Wardana justru menyampaikan kegelisahan yang lebih besar: kondisi Bali yang dinilai semakin tertekan oleh pembangunan.

Menurutnya, kerusakan Bali terjadi secara perlahan dan sering kali tidak disadari. Pembangunan dinilai mulai berhadapan dengan berbagai aturan adat maupun hukum lokal yang selama ini menjadi pagar keseimbangan kehidupan masyarakat Bali.

“Salah satu yang disorot adalah semakin terpinggirkannya bhisama mengenai kesucian kawasan pura. Persoalan lain adalah wacana perubahan batas ketinggian bangunan yang selama ini menjadi salah satu karakter penting arsitektur dan lanskap Bali,” ujarnya.

Batas ketinggian bangunan yang secara tradisional berada di bawah pohon kelapa, atau sekitar empat lantai, menurut Wisnu mulai dipandang tidak lagi sejalan dengan kebutuhan ekonomi.

“Di titik inilah THK Awards mencoba mengambil posisi,” singkatnya.

Bagi Yayasan THK Awards, mempertahankan Bali bukan berarti menolak pembangunan atau menutup pintu bagi investasi. Persoalannya adalah pembangunan seperti apa yang masih mampu menjaga Bali tetap menjadi Bali.

Ketika setiap ruang diukur hanya berdasarkan nilai ekonomi, ketika alam dipandang semata sebagai komoditas, dan ketika batas-batas kesucian serta kearifan lokal dianggap sebagai hambatan investasi, maka pertanyaan besarnya bukan lagi berapa banyak wisatawan yang datang.

“Save Bali by implementing Tri Hita Karana” akhirnya bukan sekadar tagline THK Awards 2026. Ia menjadi seruan agar industri pariwisata kembali menempatkan keseimbangan sebagai ukuran keberhasilan.

Baca Juga:  Motor dan Helm Jadi Petunjuk, WNA Rusia Diduga Hilang di Tebing Karang Boma

Sebab pariwisata yang tumbuh tanpa keseimbangan berpotensi kehilangan alasan utama mengapa Bali sejak awal begitu dikagumi dunia.

Dan melalui THK Awards, suara yang ingin disampaikan Yayasan THK Awards sederhana tetapi tegas: Bali tidak cukup hanya dibangun. Bali harus dijaga. (gk)