Menjelang Mahasabha XIII, KMHDI Buleleng Soroti Ruang Anak Muda dan Persoalan Umat

Gemini_Generated_Image_d3vp44d3vp44d3vp
Foto: Kabid Litbang KMHDI Buleleng, Made Tio Suryawan. (Sumber: Pribadi)

 

BULELENG, Beritarealitas.com – Berakhirnya masa kepengurusan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan bergulirnya agenda Mahasabha XIII tak hanya menjadi momentum pergantian kepemimpinan.

Bagi kalangan muda Hindu, forum tertinggi organisasi keumatan tersebut juga dinilai menjadi saat penting untuk bercermin. Pertanyaannya, sejauh mana PHDI selama ini benar-benar hadir dan menjawab persoalan yang dirasakan umat di lapangan?

Sorotan itu disampaikan Kabid Litbang KMHDI Buleleng, Made Tio Suryawan, Jumat (2/10/2026).

Menurutnya, Mahasabha XIII jangan berhenti pada agenda memilih kepengurusan baru dan menyusun program kerja. Forum tersebut harus mampu menjadi ruang refleksi mengenai kebutuhan umat Hindu, terutama generasi muda.

“Mahasabha XIII jangan hanya dimaknai sebagai momentum pergantian kepengurusan dan penyusunan program kerja. Ini juga harus menjadi ruang refleksi, sejauh mana PHDI benar-benar hadir menjawab persoalan umat dan membaca kebutuhan generasi Hindu hari ini,” ujar Made Tio.

Ia menilai posisi PHDI memiliki arti strategis dalam kehidupan umat Hindu. Namun, besarnya posisi kelembagaan tersebut, menurutnya, juga perlu diikuti dengan kehadiran yang semakin nyata dan dirasakan masyarakat.

PHDI, kata dia, tidak cukup hanya tampak dalam forum kelembagaan atau agenda keumatan. Organisasi tersebut juga dituntut membangun kedekatan sosial dengan umat dan mampu menangkap berbagai persoalan yang muncul dari bawah.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Made Tio adalah posisi generasi muda Hindu dalam kehidupan organisasi.

Ia menilai anak muda tidak semestinya hanya dilibatkan ketika organisasi membutuhkan tenaga untuk menjalankan sebuah kegiatan. Generasi muda juga harus diberikan ruang untuk menyampaikan gagasan, menyampaikan kritik, bahkan ikut menentukan arah kebijakan keumatan.

Baca Juga:  PP KMHDI Soroti RUU Reforma Agraria, Pertanyakan Jaminan Pengawasan BRAN

“Pemuda Hindu hari ini tidak hanya membutuhkan ruang untuk dilibatkan dalam sebuah kegiatan. Mereka juga membutuhkan ruang untuk menyampaikan pemikiran, mengkritisi persoalan, dan ikut menentukan arah kebijakan keumatan,” katanya.

Menurutnya, generasi muda harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam proses pengambilan keputusan. Sebab, mereka bukan hanya dipersiapkan sebagai penerus organisasi, tetapi juga merupakan bagian dari umat yang saat ini menghadapi langsung berbagai persoalan sosial, pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan.

Karena itu, PHDI ke depan didorong membangun hubungan yang lebih terbuka dengan organisasi kepemudaan, mahasiswa, serta berbagai organisasi Hindu lainnya.

Made Tio melihat organisasi-organisasi tersebut memiliki kader, gagasan, sekaligus pengalaman lapangan yang dapat menjadi kekuatan bersama dalam membangun kehidupan umat Hindu.

“PHDI tidak harus menjadi satu-satunya pihak yang bergerak. Ada banyak organisasi Hindu, organisasi kepemudaan, mahasiswa, dan kader yang memiliki gagasan serta kepedulian. Yang dibutuhkan adalah ruang yang mampu mempertemukan dan menyatukan berbagai kekuatan tersebut,” jelasnya.

Selain ruang bagi generasi muda, Made Tio juga menyoroti persoalan pendidikan Hindu. Salah satunya menyangkut kebutuhan dan ketersediaan tenaga pengajar atau guru agama Hindu.

Menurutnya, persoalan guru agama Hindu tidak semestinya dipandang sebatas persoalan teknis pendidikan. Lebih jauh, hal tersebut berkaitan dengan keberlanjutan pendidikan agama Hindu sekaligus pembentukan karakter generasi Hindu di masa mendatang.

“Persoalan guru agama Hindu tidak cukup dilihat sebagai persoalan teknis pendidikan. Ini menyangkut keberlanjutan pendidikan dan bagaimana generasi Hindu ke depan mendapatkan pendidikan agama yang memadai,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, ia berharap PHDI dapat mengambil peran lebih strategis dengan menyuarakan kepentingan umat kepada pemerintah dan membangun komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

PHDI juga diharapkan tidak hanya bergerak ketika sebuah persoalan sudah membesar dan menjadi perhatian publik. Sebaliknya, organisasi keumatan tersebut dinilai perlu memiliki kemampuan membaca persoalan sejak mulai dirasakan umat.

Baca Juga:  Temuan “Klaster Mewah” Lapas Cibinong, Samuel F. Silaen: Aturan Saja Tak Cukup

“PHDI perlu hadir bukan hanya ketika persoalan sudah menjadi besar, tetapi sejak persoalan tersebut mulai dirasakan oleh umat,” tegas Made Tio.

Bagi Made Tio, Mahasabha XIII menjadi momentum untuk membuka ruang yang lebih luas bagi generasi muda Hindu dalam kehidupan organisasi.

Anak muda, menurutnya, tidak cukup hanya disebut sebagai penerus. Mereka perlu diberi kesempatan untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan ikut menyusun arah perjalanan organisasi ke depan. Namun, ia menegaskan, kritik tersebut bukan dimaksudkan untuk meniadakan berbagai hal yang telah dilakukan PHDI selama ini.

Sebaliknya, kritik tersebut merupakan bentuk harapan agar PHDI terus berbenah, semakin responsif terhadap persoalan umat, terbuka terhadap kritik, dan mampu memperkuat kolaborasi dengan berbagai elemen Hindu.

“Ini bukan untuk meniadakan apa yang sudah dilakukan PHDI selama ini. Justru ini merupakan bentuk harapan agar PHDI terus berbenah, semakin responsif terhadap persoalan umat, terbuka terhadap kritik, dan semakin kuat membangun kolaborasi,” katanya.

Ia menilai pembangunan umat Hindu tidak dapat dibebankan kepada satu organisasi saja. Ada banyak elemen umat, organisasi, kader, mahasiswa, dan generasi muda yang memiliki kepedulian serta gagasan terhadap masa depan Hindu.

Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya penguatan organisasi dari sisi internal, tetapi juga kemampuan membangun ruang kolaborasi yang mampu mempertemukan berbagai kekuatan tersebut.

“Bukan tentang siapa yang paling depan, tetapi bagaimana seluruh kekuatan umat, termasuk generasi mudanya, dapat berjalan bersama,” pungkas Made Tio. (gk)